Takbir, Dibalik Segalanya

  • 0

“Allahu Akbar!”. Ini adalah pertama kalinya aku mendengarkan sekaligus meneriakkan kalimat ini di kampus. Selasar FEB UGM bergema dengan suara takbir yang diucapkan oleh panitia JMME Fair 2012. Mungkin ini adalah hal yang remeh karena takbir pun sering kita kumandangkan dalam adzan, sering kita lafalkan dalam shalat, sering kita sebut dalam dzikir. Tapi ada sesuatu yang berbeda ketika takbir ini dilafalkan berjama’ah dengan sebuah suara yang lantang.

Tentu kita masih ingat suasana perang Badar ketika pada saat itu jumlah ummat Muslim yang sedikit melawan jumlah kafir Quraisy yang sangat banyak. Sebuah kemustahilan ketika pada saat itu kaum Muslimin justru keluar dari medan pertempuran sebagai pemenang. Ditinjau dari akal sehat ini memang tidak logis. Sejatinya ketika ada sebuah kelompok besar yang bertempur melawan kelompok kecil maka bisa dipastikan kelompok besar itu akan menang. Tapi tidak demikian pada perang Badar dan perang-perang umat Islam lainnya.

Sedikitnya jumlah pasukan tidak akan membuat umat Muslim gentar dalam pertempuran selama mereka masih memegang Allah sebagai pelindungnya. Dengan cara apa umat Islam pada saat itu menghadirkan Allah dalam perjuangannya? Sebuah kalimat yang kecil namun dinilai besar di sisi Allah. Sebuah lafal yang mengundang kekuatan. Sebuah kalimat yang menghadirkan ketenangan, menghasilkan semangat, menghilangkan ketakutan, membentuk kesolidan. Suara yang bergema secara bersamaan ini juga mampu membuat musuh Allah bergetar ketakutan ketika mendengarnya. Sesuatu yang diucapkan dengan tegas, “Allahu Akbar!”.

Takbir ini yang membuat umat Islam memenangkan pertempuran walau dengan jumlah yang kecil. Karena pada masa itu umat Islam hanyalah minoritas dibanding penduduk lain di seluruh dunia. Namun kerajaan Romawi dan Persia harus mengakui bahwa dalam peperangan umat Islam mampu mengungguli mereka. Padahal yang ingin dibawa oleh Islam hanyalah sebuah kebaikan. Yang pertama kali ditawarkan oleh umat Islam bukanlah peperangan, tapi sebuah perjanjian damai dengan syarat yang sama menguntungkan. Hingga pada akhirnya umat Islam terpecah dalam takbir mereka masing-masing dan dengan mudahnya pasukan Islam dihancurkan.

Sejarah kekhalifahan Turki Utsmani cukup untuk menjadi pelajaran bagi kita. Kehancuran pada masa itu bukanlah tanpa sebab yang jelas dari dalam tubuh umat Islam sendiri. Inilah yang terjadi ketika nafsu keduniawian yang mendominasi mereka. Pengunggulan antar kelompok satu dengan yang lainnya juga merupakan faktor vital bagi kehancuran khilafah Turki Utsmani pada masa itu. Mereka bertakbir untuk diri masing-masing dan untuk kelompok mereka sendiri. Kondisi yang masih berlanjut sampai saat ini.

Sudah cukup jelas gambaran sejarah tentang kejayaan yang berujung pada kehancuran. Kejayaan ini tidak akan pernah kembali jika umat Islam hanya bergerak bagi dirinya sendiri. Dan jika kelompoknya hanya menjalankan agenda untuk mereka saja. Takbir ini diperlukan untuk mempersatukan umat Islam yang masih tercerai-berai. Takbir ini dibutuhkan untuk menghilangkan individualitas antar kelompok. Takbir ini diwajibkan bagi kita yang menginginkan kejayaan. Sebuah kemenangan yang dijanjikan. Sesuatu yang tak akan terlaksana tanpa adanya persatuan.

Bukan saatnya lagi untuk menanyakan esensi takbir ini sendiri. Kita butuh kemajuan dalam cara berpikir. Bukan hanya retorika yang membuat pemikiran berputar-putar didalamnya. Perlu jalan untuk memandu pemikiran ini. Tidak ada gunanya mempermasalahkan perbedaan karena sesuatu yang berbeda itu niscaya. Bukankah pada masa Rasulullah SAW para sahabat sering berbeda pendapat? Kita bukanlah makhluk yang lebih mulia dari seorang sahabat. Mengapa kita mempermasalahkan apa yang tidak dipermasalahkan? Saat itu para sahabat sudah berbicara jauh mengenai perkembangan Islam namun kita masih berbicara seputar arti Islam itu sendiri. Arti Islam bagi kelompoknya. Bukan Islam pada kesempurnaan dan ke-universal-annya. Padahal jarak kita sudah lebih dari 1400 tahun. Mulailah kembali berpikir untuk mendapatkan sebuah kemajuan. Untuk bisa melantangkan takbir ini secara berjama’ah. Allahu Akbar!

Sebuah Diskusi, Sebuah Kebodohan

  • 19

Ini pertama kalinya gw bincang-bincang ama orang Arab. Orang Mesir tepatnya. Dia mahasiswa yang lagi belajar di UGM, Fakultas Ilmu Budaya. Peluang ini ada pas rangkaian hari ketiga JMME Fair 2012. Agenda awal acara itu nonton bareng yang awalnya mau nonton film berjudul “Le Grand Voyage”. Film dari Prancis yang katanya nyeritain tentang seseorang yang pengen pergi haji.

Sebenernya ini agenda yang kurang jelas juga sih, tadinya pengen nonton “Negeri 5 Menara” tapi karena ini film agak baru dan belom ada yang jual CD Original-nya (setdah... gaya), bajakanpun udah diuber-uber tapi juga ga ketemu, ampe nyari download-an kemana-mana juga ga dapet, akhirnya panitia sepakat ini film diganti. Tapi ternyata panitia galau juga nyari film yang bagus, sempet gw usulin buat nonton “Alangkah Lucunya Negeri Ini” (karena ini yang bagus yang gw punya, masa mau gw kasih “Sang Murabbi” wkakakak) tapi ternyata mereka minta film yang jarang-jarang (namanya film pasti ada yg udah pernah nonton -__-“).

Yaudah akhirnya ada yang usul buat nonton “Le Grand Voyage”, nama yang asing tapi gapapa lah. Dan ternyata setelah dapet film-nya malah si “Koor. Acara” (gamau nyebut nama :p) juga kurang setuju. Tapi setelah dipikir-pikir ternyata setuju juga. Bencana atau berkah ternyata muncul di tengah jalan. Bang Thoriq, mahasiswa Mesir ini ternyata dateng. Sebelumnya dia pernah diundang buat jadi pembicara di acara sebelumnya tapi ternyata ga dateng. Nah beliau baru dateng sekarang. Disambut ama ketua panitia dan setelah dijelasin kalo acara sekarang ini nonton bareng, beliau juga pengen ikut dan ternyata beliau juga nyumbang film.

Mau tau film apa? Jreng jreng jreng... Gw kira ini film asing, tapi ternyata ini emang asing, lebih tepatnya udah asing di memori. Ini film udah pernah gw tonton dulu, dulu banget ampe sekarang gw lupa. Judul filmnya “The Message” ato kalo versi arabnya mah “Ar Risalah”. Dan karena ini film versi bahasa Inggris, film pun ga ada subtitle.

Awalnya ketua panitia nanya ada yang bisa bahasa Arab ga, soalnya Bang Thoriq ini ga terlalu fasih bahasa Inggris sama bahasa Indonesia. Waw, ampe film diputer gw belom unjuk gigi. Malu gan, secara bahasa Arab udah ga pernah di muraja’ah lagi. Yaudah akhirnya gw pindah duduk ke belakang beliau terus perkenalan singkat pake bahasa Arab. Abis itu dia nanya “kamu bisa bahasa Arab”, dan gw jawab “sedikit” (pake bahasa Arab tentunya). Dan beliau minta gw buat duduk disampingnya, jujur agak gugup juga. Udah lama ga pernah ngomong pake bahasa Arab lagi.

Selama film diputer beliau ngajak ngomong pake bahasa Arab yang kadang gw cuma manggut-manggut doank, maklum pas gw di pondok pun biasanya ngobrol ama ustadz ga kaya gini amat. Ustadznya pake bahasa Arab dan gw pake bahasa Indo, ya nyambung sih, soalnya gw agak kagok nerjemahin Indo ke Arab jadi mending pake Indo aja. Tapi kalo ini mah full Arab dan gw ajak ngomong pake bahasa Inggris dikit malah jadi konslet. Ga ada cara lain selain pake bahasa Arab.

Dari jam 4 ampe jam setengah 6 gw duduk disamping dia, how terrible. Kebayang gak sih kalo ngobrol ama orang asing dan kita ga terlalu fasih ama bahasanya. Mau ngobrol juga ga enak, diem juga ga enak. Tekanan mental banget gan, apalagi gw ini lulusan pondok, apa yang udah gw dapet selama 6 tahun?

Karena film ini lama banget, panitia ngasi waktu ampe jam 5.10 tapi ternyata bang Thoriq ini pengen ampe kita nonton pas masa hijrah ke Madinah dulu. Alhasil, jam setengah 6 baru film bisa di stop dan durasi masih panjang banget. Abis itu panitia minta bang Thoriq buat ngejelasin tentang film tersebut dan bang Thoriq mau asalkan gw juga ikut bantu ngejelasin, jadi penerjemah gitu. Kami sama-sama maju ke depan. Dan abis itu kita semua poto bareng. Ternyata bang Thoriq ini minta buat poto bareng gw berdua. Ini pertama kalinya gw diminta orang asing buat poto bareng, biasanya gw yang minta. Agak norak emang kedengerannya.

Dan sebenernya gw ngerasa seneng sekaligus nyesel. Seneng karena ada yang masih bisa gw manfaatin sebagai lulusan pondok. Nyesel karena ternyata apa yg gw pelajarin selama ini belom maksimal. Dan kalo ada kalian santri pondok yang baca ini, khususnya adek-adek kelas gw di Husnul Khotimah, jangan pernah sia-siain waktu kalian belajar disana. Barakallah.

Quotes for #JMMEfair

Pembicaraan ini bukan hanya masalah sejarah, tapi juga pemahaman kita tentang kesempurnaan Islam. Ada banyak yang bisa kita pelajari dari sejarah dan kemudian kita olah menjadi pelajaran untuk melangkah. Apa yang terjadi di masa kini hanyalah pengulangan dari masa lalu, dan hampir semua masalah di masa kini telah terselesaikan di masa lalu. Hanya saja kita yang lemah, tidak mengetahui hakikat masa lalu dan tidak bisa mengambil pelajaran dari sana. Jadilah kita seorang yang tersesat di sesaknya rambu kehidupan. Pemahaman ini tidak bisa muncul secara instant, butuh tahap. Selamat menikmati tahap di #JMMEfair .

Nuansa Selatan Jogja, Siung Beach with JMME

  • 4

Yogyakarta merupakan kota yang kaya wisata dan keindahan alamnya masih terjaga. Di sebuah tempat di selatan Jogja, bersama dengan JMME (Jama’ah Mahasiswa Muslim Ekonomi) FEB UGM saya melakukan kunjungan ke salah satu pantai disana. Nama pantai ini cukup asing jika didengar oleh telinga wisatawan. Daerah yang jarang terjamah oleh turis ini masih terlihat asri dan menyimpan pemandangan alam yang indah terutama pada titik-titik pantai yang dimiliki.

Tidak seperti Parangtritis, pantai ini cukup kecil dan tidak banyak pedagang yang berkeliaran. Justru karena itu tempat ini sangat cocok digunakan sebagai objek wisata. Suasana yang tenang ditambah pemandangan batu karang dan laut yang masih terlihat sangat biru mampu membuat suasana menjadi segar kembali, apalagi saat ini merupakan momen setelah UTS berakhir.

Cukup simple dibanding dengan pantai lainnya, namun menyimpan sejuta rangkaian cerita dan rasa. Awalnya kedatangan kami untuk melakukan FGD (Forum Group Discussion) sekaligus menyambut kedatangan penduduk baru JMME. Disini juga kami ingin mempererat tali persaudaraan, karena semua Muslim itu bersaudara dan karena kami tergabung dalam organisasi yang sama, tidak etis rasanya jika masih ada yang belum saling mengenal.

Pantai ini terletak di GunungKidul, Yogyakarta, konon katanya daerah ini menyimpan banyak sekali titik pantai yang masih terjaga dan belum banyak wisatawan yang datang. Akses perjalanan yang tidak mudah menjadi salah satu faktor penghambat wisatawan yang ingin datang kemari, walaupun ini juga menjadi salah satu kelebihan yang membuat pantai ini tetap terawat dan terlindung dari kemungkinan tangan-tangan jahil. Pedagang juga jarang terlihat di pantai ini, hanya seadanya sehingga pantai tidak terlalu terlihat sesak.

Sekilas pemandangan di Pantai Siung, GunungKidul, Yogyakarta (klik gambar untuk memperbesar)

ketika memasuki lokasi Pantai Siung



pemandangan arah tenggara pantai siung

arah barat daya pantai siung

pemandangan ke arah pantai siung

lepas pantai

pasir-pasirnya (penting banget)

dan di pantai ini biota laut masih bisa terlihat, sangat cantik :)

yang di tengah ini agak dalem, bisa dipake buat berenang, jadi ga mesti ke tengah pantai dulu gan

dan sekarang kita akan memulai berekspedisi ke bukit ini
lihat ke bukit yang menjulang, yang jarang ada pepohonan

nah ini penampakan dari atas

pemandangan pantai siung dari atas bukit, cantik bukan?



Urgensi Berkelompok dan Peran Pemimpin

  • 0

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaf:4)



Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan pertolongan dari sesama. Manusia tidak dapat bergerak seorang diri jika ingin melakukan sebuah perubahan. Seberapapun banyaknya orang yang mempunyai tujuan baik namun jika mereka hanya bergerak seorang diri maka perubahan itu hampir mustahil untuk direalisasikan. Tidak banyak yang sadar, bahwa dengan bergerak seorang diri hanya akan menghabiskan tenaga yang lebih banyak dan setelah itu akan timbul kelelahan. Rasa lelah ini yang kemudian membuat orang menjadi kapok untuk berbuat baik sehingga ada kemungkinan orang tersebut menjadi tidak peduli untuk melakukan kebaikan, atau disebut juga apatis.

Ibarat sapu lidi, sebelum dikumpulkan menjadi sebuah sapu mereka hanya terdiri dari kumpulan lidi. Tidak akan memberi efek apa-apa jika digunakan untuk menyapu. Tapi setelah semua dikumpulkan menjadi satu, maka mereka membentuk sebuah kekuatan. Inilah mengapa sebuah kelompok dibutuhkan bagi orang-orang yang ingin berbuat baik. Melalui sebuah kelompok ini kita dapat menyatukan masing-masing kelebihan dan menambal masing-masing kelemahan. Dalam hal ini sebuah kelompok juga berfungsi sebagai sistem komplementatif yang mampu melengkapi satu sama lain.

Sebuah kelompok memerlukan seorang tokoh yang mampu membimbing mereka serta menjembatani kepentingan masing-masing anggota. Seorang tokoh yang mampu bertanggung jawab terhadap seluruh bagian dari kelompok. Maka dibutuhkan seorang pemimpin yang bisa mengakomodasi itu semua walaupun seorang tokoh tidak harus seorang pemimpin, akan tetapi pemimpin dan tokoh dibutuhkan untuk menjadi simbol dari sebuah kelompok itu sendiri.

Pemimpin harus mempunyai pandangan yang lebih luas untuk bisa melihat masa depan kelompoknya. Bagaimana kelompok ini akan bergerak juga merupakan sebuah langkah yang harus dipirkan oleh pemimpin dengan matang. Karena beratnya tugas seorang pemimpin, maka pemimpin membutuhkan bantuan dari orang-orang yang dipercaya untuk bisa bersama merumuskan perkembangan kelompok. Tujuan yang ditetapkan oleh pemimpin harus jelas, jika tidak maka kelompok tersebut hanya akan menjadi kelompok pasif yang tidak tahu arah dan kemudian berhenti bergerak.

Menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah. Kepemimpinan yang efektif akan menghasilkan kelompok yang handal. Oleh karena itu dibutuhkan beberapa karakteristik dari seorang pemimpin untuk bisa membuat sebuah kelompok lebih hidup. Karakteristik ini biasanya muncul dalam diri seorang pemimpin sejati. Tapi bukan berarti hanya orang tertentu yang bisa menjadi pemimpin. Setiap kita adalah pemimpin, entah itu bagi orang lain atau bagi diri sendiri. Melalui berbagai kesempatan kita bisa melatih dasar-dasar kepemimpinan. Karena pemimpin bukanlah seseorang yang tercipta secara instant, perlu banyak ujian untuk bisa menghasilkan kredibilitas seorang pemimpin. Artinya setiap orang punya kesempatan untuk menjadi pemimpin menurut kadarnya masing-masing.

Kebutuhan masa depan bangsa akan hadirnya seorang pemimpin yang handal tidak dapat disembunyikan. Bangsa ini sedang mengalami krisis pencarian pemimpin sejati. Bangsa ini merindukan masa dimana saat itu Soekarno yang masih menjabat sebagai presiden, pemimpin bangsa tertinggi mampu menimbulkan kekaguman masyarakat atas jiwa kepemimpinannya. Sosok seorang yang berani dan tegas menghadapi lawan serta menyenangkan di mata kawan

Ketegasan, keberanian, tanggungjawab yang besar, rasa memiliki, dan keinginan untuk terus lebih baik menampilkan sosok seorang pemimpin sejati di masa itu. Beruntungnya seorang Soekarno karena beliau dikarunia sebuah karisma yang mampu memberikan kewibawaan pada dirinya. Gaya berbicara beliau yang membangkitkan juga menjadi salah satu faktor tingginya semangat pemuda pada masa itu untuk tetap mempertahankan kemerdekaan. Kepintaran beliau juga membuat lawan politik mengaguminya.

Sosok inilah yang kita butuhkan untuk bisa membangun kembali bangsa Indonesia dari keterpurukan. Perbedaan masa dahulu dan saat ini terlihat pada simbol pemimpin yang mengayomi bangsanya. Ketika pemimpin itu tidak mampu memberikan rasa aman kepada warganya, maka masyarakat juga tidak merasa puas terhadap pemimpinnya. Masyarakat membutuhkan sosok pembaharu, yang bisa mengembalikan bangsa Indonesia ke kejayaan asalnya dan bahkan lebih baik dari masa itu.

Bangsa ini mengharapkan lebih dari sekedar pemimpin yang didukung oleh kekuatan politiknya. Fenomena menunjukkan bahwa politik hanya merupakan kepentingan semu yang bertujuan untuk mengambil keuntungan masing-masing. Pemain politik lebih sering mengedepankan ego kelompoknya dan muncul fanatisme berlebihan atas berita yang turun dari kelompoknya sendiri, sehingga hal ini memicu diskriminasi kepentingan antar kelompok. Padahal jika memang kelompok politik bertujuan untuk mengabdi pada masyarakat, maka keputusan yang diambil bukan hanya melihat pada kondisi kelompok dan demi keamanan posisi kelompok tersebut.

Kelompok politik harus benar-benar bergerak atas nama rakyat dan demi kesejahteraan rakyat. Dan seharusnya jika memang hal ini terjadi, tidak perlu ada diskriminasi antar kelompok politik yang ada, mereka seharusnya saling bekerjasama untuk membangun bangsa. Diperlukan keberanian untuk menyampaikan sebuah kebenaran, dan itu bukanlah hal yang mudah. Kebenaran harus dijunjung tinggi apapun resikonya.
Seorang pemimpin tidak perlu mengorbankan rakyatnya untuk mencapai kesejahteraan. Jati diri seorang pemimpin seharusnya mau bertanggungjawab. Pertanggungjawaban ini yang mesti menjadi asas bagi seorang pemimpin untuk berlaku adil. Jika seorang pemimpin mau mengorbankan rakyatnya, maka terlebih dahulu pemimpin itu harus mau mengorbankan diri dan jika memang perlu mereka mengorbankan kelompoknya untuk benar-benar bisa mencapai kesejahteraan bangsa.

Menikmati UTS

  • 5
Hari ini dengan resmi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM mengawali Ujian Tengah Semester (UTS). Ini memang bukan yang pertama kalinya aku melaksanakan UTS, namun suasana UTS kali ini terasa berbeda dibanding semester sebelumnya, dimana saat itu sebagai seorang mahasiswa baru yang ingin menunjukkan eksistensi idealismenya dengan penuh semangat berjuang di bidang akademis, yah walaupun hasil yang diperoleh tidak sepenuhnya memuaskan, memang penyakit semasa SMA, belajar hanya ketika menjelang ujian. Periode ini sepertinya rasa malas lebih mendominasi, entah karena jadwal UTS yang terlalu lama keluar atau ada faktor lain. Yasudahlah, tidak mau berlama-lama membahas UTS, karena UTS seharusnya memang dijalani, bukan dipermasalahkan. Lagipula inti dari tulisan ini bukan disini.

Tepat tadi pagi, ketika sedang asik bersantai ria karena tidak ada jadwal UTS yang berarti bisa menikmati masa libur dengan sebaik-baiknya, sebuah SMS datang dari teman “Ja, lu dmana? Mw ikutan ngerjain monik ultah?”, sempat kaget karena memang tidak ada persiapan, setelah lama berbasa-basi sampai datang telpon dari teman, maka dengan langkah gontai kaki ini dilangkahkan menuju kampus. Cukup melelahkan sebenarnya, apalagi saat itu aku sedang berpuasa Senin, tapi untuk sebuah kado pertemanan maka langkah ini semakin menguat.

ultah monic
Setelah sampai di kampus, ternyata teman sudah menunggu dan siap mengeluarkan kejutan. “Sang Target” pun sedang mengobrol di depan, menunggu sebuah jebakan yang datang. Dan akhirnya dengan berbagai tipu daya, akhirnya korban masuk perangkap dan... :D Sebelumnya pada tanggal 25 Maret di sebuah kantin Psikologi, ada juga seorang korban bernama Andreas, dan akhirnya sempat menikmati suapan nasi dan tegukan air gratis. Alhamdulillah :D

ultah andre
Semua ini menyadarkan bahwa dibalik kelumit kesemrautan negara yang ramai pembicaraan politik, dari kasus Angelina Sondakh yang kemudian tertutup oleh kasus FPI (kemana kasus Angie setelah itu?), prokontra BBM yang tiba-tiba muncul nama binatang asing Tomcat dan lanjut dialihkan ke isu koalisi penguasa (ini ga ada ngaruhnya ama masyarakat, masyarakat bukan mau ngurusin koalisi, tapi gimana cara menghasilkan sesuap nasi) ternyata masih ada “surga kecil” di sebuah kampus kecil FEB UGM. Bukannya apatis, tapi sekedar menjernihkan pikiran dengan hal menyenangkan. Walaupun ada sebuah pepatah di kampus kami kalau anak Akuntansi hanya bisa hidup dengan bergeng (yang ngomong kayaknya kebanyakan nonton Crows Zero) tapi ya memang, setiap manusia mempunyai ciri khas tersendiri, bukannya eksklusif tapi memang setiap manusia sudah ditakdirkan berbeda, hanya masalah kita bagaimana cara mengolah perbedaan supaya tidak saling berbenturan. Betapa indahnya makna “Bhinneka Tunggal Ika” jika benar-benar di implementasikan di negeri ini. Tidak akan ada lagi perpecahan antar masyarakat, kita semua mendambakan kehidupan di negara yang adil dan damai.
ultah andre

Tulisan ini mungkin akan terasa indah jika kembali kita buka 4 tahun kedepan, melihat sebuah blog milik adik kelas yang menceritakan pengalaman menariknya menjadi sebuah kenangan tersendiri, karena aku pernah mengalami lingkungan yang sama. Dan kini aku dalam lingkungan yang berbeda, mencoba mengabadikan sebuah kenangan, karena kenangan akan menjadi motivasi kelak di suatu saat nanti.

ultah monic
Terinspirasi dari buku Sejuta Pelangi karya Oki Setiana Dewi (Mizan, 2012) yang berisi catatan harian beliau dan ternyata sebuah cerita mampu membangkitkan suasana kejiwaan yang lain dari biasanya. Karena motivasi bukan hanya lahir dari artikel berbobot, namun ada peluang dari sebuah kisah ringan. "Dan karena aku yakin, suatu saat nanti kita akan berdiri bersama, di kampus kecil kita, menggunakan toga dan kemudian menjalani hidup masing-masing dan berjuang demi terciptanya kemajuan bangsa Indonesia". Memikirkan kehidupan politik para pejabat yang sudah terekam kotor, butuh generasi yang mempunyai sisi manusiawi yang tidak akan luntur setelah dihadapkan oleh harta dan tahta, apalagi wanita. Dan aku yakin kita bisa menjadi generasi itu, karena kita memegang sisi religius, sebuah sisi abstrak yang bisa mengalahkan logika, tapi terkalahkan oleh dunia jika kita tak mampu menjaganya.

Student Lounge at Pertamina Tower FEB UGM
Terimakasih kepada senior di kampus, Bhima Yudhistira yang telah meyakinkan mimpiku di masa SMA sebelumnya, aku akan menjadi jurnalis di saat kuliah, dan kini Allah SWT telah memberi jalan, hanya masalah langkah, apakah aku akan berjalan biasa, berlari, melompat, atau mencari jalan lain.


Diposting di blog untuk menyambut blogger angkatan 2012 http://jumadi31musfa.blogspot.com/ , http://pokoknyagitulah.blogspot.com/http://andreaslukita.blogspot.com/. Semoga tulisan ini bisa menginspirasi bagi semua.

Mahasiswa Semester 2 FEB UGM

Salah Urus BBM

  • 0
Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Selasa, 27 Maret 2012

Pengurangan subsidi BBM seharusnya bukan sesuatu yang menakutkan di kalangan masyarakat karena mereka akan segera merasakan pembangunan yang lebih maju dari sebelumnya. Masalah keterbatasan dana yang sering terjadi kini dapat ditambal. Alokasi subsidi BBM yang sudah berlebihan juga bisa diperlambat dengan kebijakan ini mengingat harga minyak dunia yang semakin melonjak. Tahun lalu anggaran subsidi yang hanya 129,7 triliun ternyata terdongkrak sampai 160 triliun. Apabila tahun ini pemerintah tidak mengubah strateginya, maka pemerintah akan mengeluarkan dana yang lebih besar lagi.

Pemerintah telah mempersiapkan solusi dari kenaikan BBM ini dengan cara menyalurkan BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) yang esensinya hampir sama seperti BLT (Bantuan Langsung Tunai) di tahun lalu. Namun timbul banyak pertanyaan apakah BLSM ini juga akan mengalami kegagalan seperti sebelumnya? Jika melihat mekanisme penyerahan BLT yang tidak tepat sasaran maka opsi ini hanya akan menimbulkan masalah baru di kalangan masyarakat kelas bawah, karena ternyata banyak masyarakat menengah dan keatas yang ikut merasakan keuntungan BLT. Belum lagi efek negatif yang timbul akibat berdesak-desakan di khalayak ramai sampai ada beberapa warga yang jatuh dan terinjak-injak. Alhasil BLSM dianggap sebagai politik pencitraan sebagai solusi dari kenaikan harga BBM.

Memang tidak mudah untuk mencari solusi lain bersamaan dengan semakin melonjaknya harga minyak mentah dunia. Tapi ada beberapa hal yang mesti kita sadari, saat ini Indonesia masih menghadapi masalah moral internal. Belum lama kita mendengar berita-berita korupsi yang didominasi partai penguasa, belum lama pula kita mendapat kabar tentang pembelian pesawat khusus kepresidenan dan sekarang kita dihadapkan pada kenyataan tentang pengurangan subsidi BBM. Sikap pemerintah dirasa semakin menjerat masyarakat. Ketika biaya pendidikan dirasa sangat mahal, bantuan kesehatan sulit didapat, apalagi yang masyarakat punya selain murahnya harga BBM? Bahkan jika ada APBN yang berhasil diselamatkan sebagai imbalan dari kenaikan BBM belum tentu semua itu bisa sampai ke tangan rakyat.

Dari sekian banyaknya anggaran negara yang ditetapkan oleh pemerintah, hanya BBM yang bisa langsung sampai ke tangan masyarakat, sisanya habis untuk membayar gaji pegawai, pelunasan hutang. Kemudahan akses pendidikan dan kesehatan yang dijanjikan oleh pemerintah pun belum berjalan dengan baik, masih banyak masyarakat yang mengalami diskriminasi pengobatan, masih banyak warga yang ingin sekolah namun terkendala masalah biaya. Singkatnya pemerintah hanya bisa memberikan sebuah kebaikan berupa subsidi BBM dan sekarang hendak dikurangi. Tentu saja masyarakat tidak bisa menerima pengurangan haknya. Harga minyak mentah di Indonesia memang terlalu murah dibanding negara lainnya, tapi itu sebanding dengan hasil lain yang mereka dapat dari pemerintah. Angan-angan pemerintah untuk menciptakan stabilitas ekonomi dengan mengurangi subsidi BBM sepertinya perlu ditinjau ulang.

Permasalahan korupsi yang semakin menjamur menjadi penyebab ragunya masyarakat untuk menerima kenyataan ini. Dana pendidikan sebesar 20% APBN pun ternyata tidak semua sampai ke tangan para pelajar, sebagian hilang atas nama birokrasi. Jika faktor ini diabaikan maka kesenjangan sosial akan terlihat semakin jelas. Pemerintah harus kembali memutar otak untuk mengatasi masalah ini. Padahal masih banyak sektor yang bisa dibenahi untuk menghemat pengeluaran negara. Seharusnya pemerintah juga menawarkan solusi pilihan bagi masyarakatnya disamping solusi kebijakan yang dilontarkan pemerintah. Contohnya meminimalisir penggunaan BBM di kalangan masyarakat dengan mengandalkan transportasi umum. Oleh karena itu kita dapat menyimpulkan, kenaikan harga BBM itu kesalahan kebijakan atau kesalahan sikap pemerintah?