Urgensi Berkelompok dan Peran Pemimpin

  • 0

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaf:4)



Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan pertolongan dari sesama. Manusia tidak dapat bergerak seorang diri jika ingin melakukan sebuah perubahan. Seberapapun banyaknya orang yang mempunyai tujuan baik namun jika mereka hanya bergerak seorang diri maka perubahan itu hampir mustahil untuk direalisasikan. Tidak banyak yang sadar, bahwa dengan bergerak seorang diri hanya akan menghabiskan tenaga yang lebih banyak dan setelah itu akan timbul kelelahan. Rasa lelah ini yang kemudian membuat orang menjadi kapok untuk berbuat baik sehingga ada kemungkinan orang tersebut menjadi tidak peduli untuk melakukan kebaikan, atau disebut juga apatis.

Ibarat sapu lidi, sebelum dikumpulkan menjadi sebuah sapu mereka hanya terdiri dari kumpulan lidi. Tidak akan memberi efek apa-apa jika digunakan untuk menyapu. Tapi setelah semua dikumpulkan menjadi satu, maka mereka membentuk sebuah kekuatan. Inilah mengapa sebuah kelompok dibutuhkan bagi orang-orang yang ingin berbuat baik. Melalui sebuah kelompok ini kita dapat menyatukan masing-masing kelebihan dan menambal masing-masing kelemahan. Dalam hal ini sebuah kelompok juga berfungsi sebagai sistem komplementatif yang mampu melengkapi satu sama lain.

Sebuah kelompok memerlukan seorang tokoh yang mampu membimbing mereka serta menjembatani kepentingan masing-masing anggota. Seorang tokoh yang mampu bertanggung jawab terhadap seluruh bagian dari kelompok. Maka dibutuhkan seorang pemimpin yang bisa mengakomodasi itu semua walaupun seorang tokoh tidak harus seorang pemimpin, akan tetapi pemimpin dan tokoh dibutuhkan untuk menjadi simbol dari sebuah kelompok itu sendiri.

Pemimpin harus mempunyai pandangan yang lebih luas untuk bisa melihat masa depan kelompoknya. Bagaimana kelompok ini akan bergerak juga merupakan sebuah langkah yang harus dipirkan oleh pemimpin dengan matang. Karena beratnya tugas seorang pemimpin, maka pemimpin membutuhkan bantuan dari orang-orang yang dipercaya untuk bisa bersama merumuskan perkembangan kelompok. Tujuan yang ditetapkan oleh pemimpin harus jelas, jika tidak maka kelompok tersebut hanya akan menjadi kelompok pasif yang tidak tahu arah dan kemudian berhenti bergerak.

Menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah. Kepemimpinan yang efektif akan menghasilkan kelompok yang handal. Oleh karena itu dibutuhkan beberapa karakteristik dari seorang pemimpin untuk bisa membuat sebuah kelompok lebih hidup. Karakteristik ini biasanya muncul dalam diri seorang pemimpin sejati. Tapi bukan berarti hanya orang tertentu yang bisa menjadi pemimpin. Setiap kita adalah pemimpin, entah itu bagi orang lain atau bagi diri sendiri. Melalui berbagai kesempatan kita bisa melatih dasar-dasar kepemimpinan. Karena pemimpin bukanlah seseorang yang tercipta secara instant, perlu banyak ujian untuk bisa menghasilkan kredibilitas seorang pemimpin. Artinya setiap orang punya kesempatan untuk menjadi pemimpin menurut kadarnya masing-masing.

Kebutuhan masa depan bangsa akan hadirnya seorang pemimpin yang handal tidak dapat disembunyikan. Bangsa ini sedang mengalami krisis pencarian pemimpin sejati. Bangsa ini merindukan masa dimana saat itu Soekarno yang masih menjabat sebagai presiden, pemimpin bangsa tertinggi mampu menimbulkan kekaguman masyarakat atas jiwa kepemimpinannya. Sosok seorang yang berani dan tegas menghadapi lawan serta menyenangkan di mata kawan

Ketegasan, keberanian, tanggungjawab yang besar, rasa memiliki, dan keinginan untuk terus lebih baik menampilkan sosok seorang pemimpin sejati di masa itu. Beruntungnya seorang Soekarno karena beliau dikarunia sebuah karisma yang mampu memberikan kewibawaan pada dirinya. Gaya berbicara beliau yang membangkitkan juga menjadi salah satu faktor tingginya semangat pemuda pada masa itu untuk tetap mempertahankan kemerdekaan. Kepintaran beliau juga membuat lawan politik mengaguminya.

Sosok inilah yang kita butuhkan untuk bisa membangun kembali bangsa Indonesia dari keterpurukan. Perbedaan masa dahulu dan saat ini terlihat pada simbol pemimpin yang mengayomi bangsanya. Ketika pemimpin itu tidak mampu memberikan rasa aman kepada warganya, maka masyarakat juga tidak merasa puas terhadap pemimpinnya. Masyarakat membutuhkan sosok pembaharu, yang bisa mengembalikan bangsa Indonesia ke kejayaan asalnya dan bahkan lebih baik dari masa itu.

Bangsa ini mengharapkan lebih dari sekedar pemimpin yang didukung oleh kekuatan politiknya. Fenomena menunjukkan bahwa politik hanya merupakan kepentingan semu yang bertujuan untuk mengambil keuntungan masing-masing. Pemain politik lebih sering mengedepankan ego kelompoknya dan muncul fanatisme berlebihan atas berita yang turun dari kelompoknya sendiri, sehingga hal ini memicu diskriminasi kepentingan antar kelompok. Padahal jika memang kelompok politik bertujuan untuk mengabdi pada masyarakat, maka keputusan yang diambil bukan hanya melihat pada kondisi kelompok dan demi keamanan posisi kelompok tersebut.

Kelompok politik harus benar-benar bergerak atas nama rakyat dan demi kesejahteraan rakyat. Dan seharusnya jika memang hal ini terjadi, tidak perlu ada diskriminasi antar kelompok politik yang ada, mereka seharusnya saling bekerjasama untuk membangun bangsa. Diperlukan keberanian untuk menyampaikan sebuah kebenaran, dan itu bukanlah hal yang mudah. Kebenaran harus dijunjung tinggi apapun resikonya.
Seorang pemimpin tidak perlu mengorbankan rakyatnya untuk mencapai kesejahteraan. Jati diri seorang pemimpin seharusnya mau bertanggungjawab. Pertanggungjawaban ini yang mesti menjadi asas bagi seorang pemimpin untuk berlaku adil. Jika seorang pemimpin mau mengorbankan rakyatnya, maka terlebih dahulu pemimpin itu harus mau mengorbankan diri dan jika memang perlu mereka mengorbankan kelompoknya untuk benar-benar bisa mencapai kesejahteraan bangsa.