Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Saatnya Foke dan Jokowi Memimpin!

  • 2


Pilgub DKI Jakarta memang menarik perhatian semua pihak. Sebagai ibukota negara, Jakarta memang sangat strategis terutama dalam bidang politik dan ekonomi. Bisa dibilang, siapa yang menguasai Jakarta maka itu adalah pintu untuk menguasai Indonesia. Statement ini mungkin subjektif, tapi ini yang banyak berkembang di pikiran masyarakat. Jakarta seolah-olah sebuah aset yang wajib dikuasai.

Keberagaman masyarakat Jakarta menjadikan kota ini bagai sebuah miniatur negara. Berbagai macam suku dan agama tinggal dalam sebuah kota dan saling berinteraksi terhadap sesama. Menunjukkan betapa keharmonisan sangat dijunjung tinggi di kota ini. Dan penduduknya juga sudah saling memaklumi tentang perbedaan di sekitar mereka. Terlebih lagi derajat sebagai wilayah perkotaan yang didominasi oleh kaum berpendidikan tinggi membuat masyarakatnya bisa berpikir lebih matang.

Keadaan ekonomi yang sangat timpang antara desa dan kota merupakan salah satu penyebab orang-orang dari luar berdatangan ke Jakarta. Banyak masyarakat perkampungan yang tergiur dengan kisah keberhasilan teman dan keluarga mereka ketika mengadu nasib di Jakarta.

Sebagai kota metropolitan, Jakarta juga dilirik oleh kalangan pebisnis dan masyarakat kelas atas. Mereka yang menginginkan tinggal di suasana perkotaan dengan fasilitas lengkap dan mewah. Semua bercampur menjadi satu, dalam sebuah kota bernama Jakarta.

Ketimpangan ini menjadi sumber utama dari berbagai macam polemik yang terjadi di Jakarta. Dalam sebuah kehidupan majemuk bernegara, dibutuhkan keseimbangan antara kehidupan di kota dan desa. Kota besar tidak bisa berdiri sendiri tanpa ada variabel pendukung. Salah satu variabel yang mendukung berkembangnya sebuah kota adalah kondisi pedesaan di sekitar.

Jika Foke dan Jokowi Terpilih

Kondisi kota dan desa yang sama-sama berkembang akan mendukung kemajuan suatu negara. Perkembangan di pedesaan kini mulai diperhatikan. Di Jawa Barat, Ahmad Heryawan mengusung sebuah program Desa Peradaban dengan tujuan utama menjadikan desa ini lebih mandiri sehingga bisa menangkal arus urbanisasi. Di Solo, Joko Widodo juga telah berhasil mengangkat citra Solo menjadi kota yang lebih terpandang. Gelar “The Spirit of Java” menjadi salah satu nilai tambah bagi kota berlambang keris dan lilin.

Joko Widodo yang juga merupakan kandidat cagub pada putaran ke-2 Pilgub DKI dianggap sebagai calon terkuat yang mampu menggantikan posisi Gubernur DKI saat ini. Dengan pengalamannya memimpin kota Solo selama 2 periode menjadi perhitungan kuat dan menjadikan Jakarta mempunyai harapan baru menuju arah yang lebih baik.

Pengalaman berharga ini merupakan rangkaian positif dari pribadi Jokowi dan sudah sepantasnya beliau memegang tempat yang lebih tinggi lagi untuk bisa mengatur daerah tertinggal. Amat disayangkan apabila tugas Jokowi hanya berhenti sampai di Solo. Melihat dari berkembangnya Jawa Barat, maka sebenarnya Jokowi bisa mengambil alih provinsi tempat beliau berdomisili, yaitu Jawa Tengah. Kerumitan Jakarta menyebabkan orang yang memimpinnya haruslah orang yang mengerti kondisi kota itu sendiri.

Kondisi ini bisa menjadi win-win solution bagi kedua pasang cagub DKI. Membangun DKI pun tidak mudah. Jokowi berhasil pada periode ke-2 beliau memimpin Solo. Hampir setiap pemerintahan 2 periode menunjukkan perkembangan baik. Kita tidak bisa mengukur kepastian, tapi alangkah bagusnya Jakarta dipegang oleh orang yang sudah mengetahui selak beluk kerumitan Jakarta.

Fauzi Bowo dikawal banyak parpol besar, termasuk PKS. Partai ini sudah terkenal taringnya walaupun berada dalam koalisi, karena yang dikehendaki partai ini adalah kebaikan untuk bangsa, bukan kebijakan “asal bapak senang” yang kadang bisa merugikan bangsa itu sendiri.

PKS sudah menetapkan komitmennya dalam kontrak kerja bersama Fauzi Bowo untuk menjadi mitra kritis jika beliau kembali terpilih. Jika tidak, maka kader PKS yang banyak tersebar di DPRD Jakarta tetap akan mengawal kinerja Fauzi Bowo, sebuah kontribusi politik yang fair.

Telah dimuat di : http://suarajakarta.com/2012/08/24/menimbang-foke-di-jakarta-jokowi-di-jawa-tengah/
Juga dipublikasikan ke : http://politik.kompasiana.com/2012/08/24/saatnya-foke-dan-jokowi-memimpin/

Urgensi Berkelompok dan Peran Pemimpin

  • 0

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaf:4)



Sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan pertolongan dari sesama. Manusia tidak dapat bergerak seorang diri jika ingin melakukan sebuah perubahan. Seberapapun banyaknya orang yang mempunyai tujuan baik namun jika mereka hanya bergerak seorang diri maka perubahan itu hampir mustahil untuk direalisasikan. Tidak banyak yang sadar, bahwa dengan bergerak seorang diri hanya akan menghabiskan tenaga yang lebih banyak dan setelah itu akan timbul kelelahan. Rasa lelah ini yang kemudian membuat orang menjadi kapok untuk berbuat baik sehingga ada kemungkinan orang tersebut menjadi tidak peduli untuk melakukan kebaikan, atau disebut juga apatis.

Ibarat sapu lidi, sebelum dikumpulkan menjadi sebuah sapu mereka hanya terdiri dari kumpulan lidi. Tidak akan memberi efek apa-apa jika digunakan untuk menyapu. Tapi setelah semua dikumpulkan menjadi satu, maka mereka membentuk sebuah kekuatan. Inilah mengapa sebuah kelompok dibutuhkan bagi orang-orang yang ingin berbuat baik. Melalui sebuah kelompok ini kita dapat menyatukan masing-masing kelebihan dan menambal masing-masing kelemahan. Dalam hal ini sebuah kelompok juga berfungsi sebagai sistem komplementatif yang mampu melengkapi satu sama lain.

Sebuah kelompok memerlukan seorang tokoh yang mampu membimbing mereka serta menjembatani kepentingan masing-masing anggota. Seorang tokoh yang mampu bertanggung jawab terhadap seluruh bagian dari kelompok. Maka dibutuhkan seorang pemimpin yang bisa mengakomodasi itu semua walaupun seorang tokoh tidak harus seorang pemimpin, akan tetapi pemimpin dan tokoh dibutuhkan untuk menjadi simbol dari sebuah kelompok itu sendiri.

Pemimpin harus mempunyai pandangan yang lebih luas untuk bisa melihat masa depan kelompoknya. Bagaimana kelompok ini akan bergerak juga merupakan sebuah langkah yang harus dipirkan oleh pemimpin dengan matang. Karena beratnya tugas seorang pemimpin, maka pemimpin membutuhkan bantuan dari orang-orang yang dipercaya untuk bisa bersama merumuskan perkembangan kelompok. Tujuan yang ditetapkan oleh pemimpin harus jelas, jika tidak maka kelompok tersebut hanya akan menjadi kelompok pasif yang tidak tahu arah dan kemudian berhenti bergerak.

Menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah. Kepemimpinan yang efektif akan menghasilkan kelompok yang handal. Oleh karena itu dibutuhkan beberapa karakteristik dari seorang pemimpin untuk bisa membuat sebuah kelompok lebih hidup. Karakteristik ini biasanya muncul dalam diri seorang pemimpin sejati. Tapi bukan berarti hanya orang tertentu yang bisa menjadi pemimpin. Setiap kita adalah pemimpin, entah itu bagi orang lain atau bagi diri sendiri. Melalui berbagai kesempatan kita bisa melatih dasar-dasar kepemimpinan. Karena pemimpin bukanlah seseorang yang tercipta secara instant, perlu banyak ujian untuk bisa menghasilkan kredibilitas seorang pemimpin. Artinya setiap orang punya kesempatan untuk menjadi pemimpin menurut kadarnya masing-masing.

Kebutuhan masa depan bangsa akan hadirnya seorang pemimpin yang handal tidak dapat disembunyikan. Bangsa ini sedang mengalami krisis pencarian pemimpin sejati. Bangsa ini merindukan masa dimana saat itu Soekarno yang masih menjabat sebagai presiden, pemimpin bangsa tertinggi mampu menimbulkan kekaguman masyarakat atas jiwa kepemimpinannya. Sosok seorang yang berani dan tegas menghadapi lawan serta menyenangkan di mata kawan

Ketegasan, keberanian, tanggungjawab yang besar, rasa memiliki, dan keinginan untuk terus lebih baik menampilkan sosok seorang pemimpin sejati di masa itu. Beruntungnya seorang Soekarno karena beliau dikarunia sebuah karisma yang mampu memberikan kewibawaan pada dirinya. Gaya berbicara beliau yang membangkitkan juga menjadi salah satu faktor tingginya semangat pemuda pada masa itu untuk tetap mempertahankan kemerdekaan. Kepintaran beliau juga membuat lawan politik mengaguminya.

Sosok inilah yang kita butuhkan untuk bisa membangun kembali bangsa Indonesia dari keterpurukan. Perbedaan masa dahulu dan saat ini terlihat pada simbol pemimpin yang mengayomi bangsanya. Ketika pemimpin itu tidak mampu memberikan rasa aman kepada warganya, maka masyarakat juga tidak merasa puas terhadap pemimpinnya. Masyarakat membutuhkan sosok pembaharu, yang bisa mengembalikan bangsa Indonesia ke kejayaan asalnya dan bahkan lebih baik dari masa itu.

Bangsa ini mengharapkan lebih dari sekedar pemimpin yang didukung oleh kekuatan politiknya. Fenomena menunjukkan bahwa politik hanya merupakan kepentingan semu yang bertujuan untuk mengambil keuntungan masing-masing. Pemain politik lebih sering mengedepankan ego kelompoknya dan muncul fanatisme berlebihan atas berita yang turun dari kelompoknya sendiri, sehingga hal ini memicu diskriminasi kepentingan antar kelompok. Padahal jika memang kelompok politik bertujuan untuk mengabdi pada masyarakat, maka keputusan yang diambil bukan hanya melihat pada kondisi kelompok dan demi keamanan posisi kelompok tersebut.

Kelompok politik harus benar-benar bergerak atas nama rakyat dan demi kesejahteraan rakyat. Dan seharusnya jika memang hal ini terjadi, tidak perlu ada diskriminasi antar kelompok politik yang ada, mereka seharusnya saling bekerjasama untuk membangun bangsa. Diperlukan keberanian untuk menyampaikan sebuah kebenaran, dan itu bukanlah hal yang mudah. Kebenaran harus dijunjung tinggi apapun resikonya.
Seorang pemimpin tidak perlu mengorbankan rakyatnya untuk mencapai kesejahteraan. Jati diri seorang pemimpin seharusnya mau bertanggungjawab. Pertanggungjawaban ini yang mesti menjadi asas bagi seorang pemimpin untuk berlaku adil. Jika seorang pemimpin mau mengorbankan rakyatnya, maka terlebih dahulu pemimpin itu harus mau mengorbankan diri dan jika memang perlu mereka mengorbankan kelompoknya untuk benar-benar bisa mencapai kesejahteraan bangsa.

Salah Urus BBM

  • 0
Dimuat di Kedaulatan Rakyat, Selasa, 27 Maret 2012

Pengurangan subsidi BBM seharusnya bukan sesuatu yang menakutkan di kalangan masyarakat karena mereka akan segera merasakan pembangunan yang lebih maju dari sebelumnya. Masalah keterbatasan dana yang sering terjadi kini dapat ditambal. Alokasi subsidi BBM yang sudah berlebihan juga bisa diperlambat dengan kebijakan ini mengingat harga minyak dunia yang semakin melonjak. Tahun lalu anggaran subsidi yang hanya 129,7 triliun ternyata terdongkrak sampai 160 triliun. Apabila tahun ini pemerintah tidak mengubah strateginya, maka pemerintah akan mengeluarkan dana yang lebih besar lagi.

Pemerintah telah mempersiapkan solusi dari kenaikan BBM ini dengan cara menyalurkan BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) yang esensinya hampir sama seperti BLT (Bantuan Langsung Tunai) di tahun lalu. Namun timbul banyak pertanyaan apakah BLSM ini juga akan mengalami kegagalan seperti sebelumnya? Jika melihat mekanisme penyerahan BLT yang tidak tepat sasaran maka opsi ini hanya akan menimbulkan masalah baru di kalangan masyarakat kelas bawah, karena ternyata banyak masyarakat menengah dan keatas yang ikut merasakan keuntungan BLT. Belum lagi efek negatif yang timbul akibat berdesak-desakan di khalayak ramai sampai ada beberapa warga yang jatuh dan terinjak-injak. Alhasil BLSM dianggap sebagai politik pencitraan sebagai solusi dari kenaikan harga BBM.

Memang tidak mudah untuk mencari solusi lain bersamaan dengan semakin melonjaknya harga minyak mentah dunia. Tapi ada beberapa hal yang mesti kita sadari, saat ini Indonesia masih menghadapi masalah moral internal. Belum lama kita mendengar berita-berita korupsi yang didominasi partai penguasa, belum lama pula kita mendapat kabar tentang pembelian pesawat khusus kepresidenan dan sekarang kita dihadapkan pada kenyataan tentang pengurangan subsidi BBM. Sikap pemerintah dirasa semakin menjerat masyarakat. Ketika biaya pendidikan dirasa sangat mahal, bantuan kesehatan sulit didapat, apalagi yang masyarakat punya selain murahnya harga BBM? Bahkan jika ada APBN yang berhasil diselamatkan sebagai imbalan dari kenaikan BBM belum tentu semua itu bisa sampai ke tangan rakyat.

Dari sekian banyaknya anggaran negara yang ditetapkan oleh pemerintah, hanya BBM yang bisa langsung sampai ke tangan masyarakat, sisanya habis untuk membayar gaji pegawai, pelunasan hutang. Kemudahan akses pendidikan dan kesehatan yang dijanjikan oleh pemerintah pun belum berjalan dengan baik, masih banyak masyarakat yang mengalami diskriminasi pengobatan, masih banyak warga yang ingin sekolah namun terkendala masalah biaya. Singkatnya pemerintah hanya bisa memberikan sebuah kebaikan berupa subsidi BBM dan sekarang hendak dikurangi. Tentu saja masyarakat tidak bisa menerima pengurangan haknya. Harga minyak mentah di Indonesia memang terlalu murah dibanding negara lainnya, tapi itu sebanding dengan hasil lain yang mereka dapat dari pemerintah. Angan-angan pemerintah untuk menciptakan stabilitas ekonomi dengan mengurangi subsidi BBM sepertinya perlu ditinjau ulang.

Permasalahan korupsi yang semakin menjamur menjadi penyebab ragunya masyarakat untuk menerima kenyataan ini. Dana pendidikan sebesar 20% APBN pun ternyata tidak semua sampai ke tangan para pelajar, sebagian hilang atas nama birokrasi. Jika faktor ini diabaikan maka kesenjangan sosial akan terlihat semakin jelas. Pemerintah harus kembali memutar otak untuk mengatasi masalah ini. Padahal masih banyak sektor yang bisa dibenahi untuk menghemat pengeluaran negara. Seharusnya pemerintah juga menawarkan solusi pilihan bagi masyarakatnya disamping solusi kebijakan yang dilontarkan pemerintah. Contohnya meminimalisir penggunaan BBM di kalangan masyarakat dengan mengandalkan transportasi umum. Oleh karena itu kita dapat menyimpulkan, kenaikan harga BBM itu kesalahan kebijakan atau kesalahan sikap pemerintah?