Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Perubahan Peta Indonesia
Perkembangan zaman ternyata juga memberikan dampak pada perkembangan di Indonesia, wilayah NKRI yang diusung sebagai harga mati sejak proklamasi ternyata goyah. Banyak oknum yang menginginkan wilayahnya lepas dari NKRI, entah karena mereka sudah merasa mandiri ataupun tidak puas dengan kinerja para pemimpin di Indonesia yang terlalu banyak korupsi.
Saatnya Foke dan Jokowi Memimpin!
Pilgub DKI Jakarta memang menarik perhatian semua pihak. Sebagai ibukota negara, Jakarta memang sangat strategis terutama dalam bidang politik dan ekonomi. Bisa dibilang, siapa yang menguasai Jakarta maka itu adalah pintu untuk menguasai Indonesia. Statement ini mungkin subjektif, tapi ini yang banyak berkembang di pikiran masyarakat. Jakarta seolah-olah sebuah aset yang wajib dikuasai.
Keberagaman masyarakat Jakarta menjadikan kota ini bagai sebuah miniatur negara. Berbagai macam suku dan agama tinggal dalam sebuah kota dan saling berinteraksi terhadap sesama. Menunjukkan betapa keharmonisan sangat dijunjung tinggi di kota ini. Dan penduduknya juga sudah saling memaklumi tentang perbedaan di sekitar mereka. Terlebih lagi derajat sebagai wilayah perkotaan yang didominasi oleh kaum berpendidikan tinggi membuat masyarakatnya bisa berpikir lebih matang.
Keadaan ekonomi yang sangat timpang antara desa dan kota merupakan salah satu penyebab orang-orang dari luar berdatangan ke Jakarta. Banyak masyarakat perkampungan yang tergiur dengan kisah keberhasilan teman dan keluarga mereka ketika mengadu nasib di Jakarta.
Sebagai kota metropolitan, Jakarta juga dilirik oleh kalangan pebisnis dan masyarakat kelas atas. Mereka yang menginginkan tinggal di suasana perkotaan dengan fasilitas lengkap dan mewah. Semua bercampur menjadi satu, dalam sebuah kota bernama Jakarta.
Ketimpangan ini menjadi sumber utama dari berbagai macam polemik yang terjadi di Jakarta. Dalam sebuah kehidupan majemuk bernegara, dibutuhkan keseimbangan antara kehidupan di kota dan desa. Kota besar tidak bisa berdiri sendiri tanpa ada variabel pendukung. Salah satu variabel yang mendukung berkembangnya sebuah kota adalah kondisi pedesaan di sekitar.
Jika Foke dan Jokowi Terpilih
Kondisi kota dan desa yang sama-sama berkembang akan mendukung kemajuan suatu negara. Perkembangan di pedesaan kini mulai diperhatikan. Di Jawa Barat, Ahmad Heryawan mengusung sebuah program Desa Peradaban dengan tujuan utama menjadikan desa ini lebih mandiri sehingga bisa menangkal arus urbanisasi. Di Solo, Joko Widodo juga telah berhasil mengangkat citra Solo menjadi kota yang lebih terpandang. Gelar “The Spirit of Java” menjadi salah satu nilai tambah bagi kota berlambang keris dan lilin.
Joko Widodo yang juga merupakan kandidat cagub pada putaran ke-2 Pilgub DKI dianggap sebagai calon terkuat yang mampu menggantikan posisi Gubernur DKI saat ini. Dengan pengalamannya memimpin kota Solo selama 2 periode menjadi perhitungan kuat dan menjadikan Jakarta mempunyai harapan baru menuju arah yang lebih baik.
Pengalaman berharga ini merupakan rangkaian positif dari pribadi Jokowi dan sudah sepantasnya beliau memegang tempat yang lebih tinggi lagi untuk bisa mengatur daerah tertinggal. Amat disayangkan apabila tugas Jokowi hanya berhenti sampai di Solo. Melihat dari berkembangnya Jawa Barat, maka sebenarnya Jokowi bisa mengambil alih provinsi tempat beliau berdomisili, yaitu Jawa Tengah. Kerumitan Jakarta menyebabkan orang yang memimpinnya haruslah orang yang mengerti kondisi kota itu sendiri.
Kondisi ini bisa menjadi win-win solution bagi kedua pasang cagub DKI. Membangun DKI pun tidak mudah. Jokowi berhasil pada periode ke-2 beliau memimpin Solo. Hampir setiap pemerintahan 2 periode menunjukkan perkembangan baik. Kita tidak bisa mengukur kepastian, tapi alangkah bagusnya Jakarta dipegang oleh orang yang sudah mengetahui selak beluk kerumitan Jakarta.
Fauzi Bowo dikawal banyak parpol besar, termasuk PKS. Partai ini sudah terkenal taringnya walaupun berada dalam koalisi, karena yang dikehendaki partai ini adalah kebaikan untuk bangsa, bukan kebijakan “asal bapak senang” yang kadang bisa merugikan bangsa itu sendiri.
PKS sudah menetapkan komitmennya dalam kontrak kerja bersama Fauzi Bowo untuk menjadi mitra kritis jika beliau kembali terpilih. Jika tidak, maka kader PKS yang banyak tersebar di DPRD Jakarta tetap akan mengawal kinerja Fauzi Bowo, sebuah kontribusi politik yang fair.
Telah dimuat di : http://suarajakarta.com/2012/08/24/menimbang-foke-di-jakarta-jokowi-di-jawa-tengah/
Juga dipublikasikan ke : http://politik.kompasiana.com/2012/08/24/saatnya-foke-dan-jokowi-memimpin/
Pembodohan Masyarakat dan Fenomena Lahirnya #IndonesiaTanpaJIL
Masih hangat dalam benak kita terkait perisitiwa beberapa minggu lalu di Kalimantan Tengah yang menghiasi headline berita lokal di penjuru nusantara mengenai penolakan masyarakat setempat terhadap pelantikan FPI Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Ketika beberapa pimpinan besar FPI hendak mendarat dan dihadang oleh sekelompok orang yang mengaku “masyarakat setempat” dengan membawa beberapa peralatan tajam maupun tumpul yang di hadapkan ke langit. Sekilas mereka mengatakan bahwa mereka menolak segala macam kekerasan dan dengan sangat percaya diri mereka melakukan itu semua (juga) dengan kekerasan.
Tokoh feminis berpaham liberal, Mariana Amiruddin menyatakan bahwa kekerasan yang terjadi dalam “penyambutan” beberapa pimpinan FPI di bandara merupakan sebuah adat atau kearifan lokal masyarakat setempat. Amat mengherankan jika kita dengan jelas menolak sesuatu dengan cara melakukan sesuatu tersebut, bukankah sebuah tindakan yang irasional? Setelah ditelusuri ternyata terungkap bahwa pencegatan FPI di bandara Tjilik Riwut Palangkaraya dilakukan oleh preman-preman suruhan yang mengatasnamakan masyarakat Dayak.
Tepat ketika suasana valentine, beberapa aktivis JIL hendak merayakan Hari Valentine dengan mengadakan aksi di bunderan HI. Bahkan sempat di bentangkan spanduk yang bertuliskan “Kado Valentine untuk Habib”. Kontan hal ini memicu emosi sejumlah kalangan. Sejumlah pembesar JIL seperti Ulil Abshar dan Guntur Ramli terlihat dalam aksi tersebut.
Demi memuluskan perjalanannya, ulil dalam sebuah twitnya menyatakan “Dukung gerakan #IndonesiaTanpaFPI. Support the Indonesia-without-FPI movement. | FPI is an Indonesian "Islamic" vigilante group,”. Aksi inilah yang kemudian memunculkan contraflow dari masyarakat social media. Sebuah hashtag balasan berbunyi #IndonesiaTanpaJIL kian ramai diposting oleh penduduk twitter.
Ketika Mariana Amiruddin juga menyebutkan bahwa #IndonesiaTanpaFPI merupakan spontanitas respon yang ditimbukan oleh masyarakat social media, sudikah ia mengakui bahwa masyarakat social media lebih bisa memilih suatu kebenaran yang terjadi dan lebih memilih #IndonesiaTanpaJIL ? Ketika mereka membuat suatu makar yang ingin melukai hati umat Islam, ternyata Allah telah mempersiapkan makar yang lebih jauh hebat dari mereka, Maha Benar firman Allah yang berbunyi
Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Q.S. Al-Anfal : 30)
Inilah masyarakat social media yang sebenarnya, orang-orang yang mempunyai kadar intelektual tinggi yang dapat membedakan fenomena benar dan salah. Inilah kami #IndonesiaTanpaJIL. Kamu?
*saat ini #IndonesiaTanpaJIL semakin ramai diperbincangkan di twitter bahkan muncul akun resmi @TanpaJIL dan fanpage facebook http://www.facebook.com/IndonesiaTanpaJIL
sebuah video pun dengan tegas menolak kehadiran JIL di Indonesia yang dibintangi oleh artis Fauzi Baadila http://www.facebook.com/photo.php?v=10151296369625123
video versi youtube:
Langganan:
Postingan (Atom)



