Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islam. Tampilkan semua postingan

Memulihkan Citra Islam

  • 12
“Media consumer” (c) Jimmy Dovholt

Jurnalistik merupakan seni dalam menyampaikan informasi kepada publik. Setiap orang membutuhkan informasi untuk meyempurnakan perjalanan hidupnya. Dalam aspek manajemen, informasi merupakan salah satu faktor utama yang akan digunakan dalam mengambil keputusan. Semua profesi, mulai dari buruh sampai presiden punya kepentingan tersendiri untuk mendapatkan informasi.

Pertanyaan Kepada Para Pendukung Israel

  • 1


Mohon maaf, jika ada diantara para pembaca yang mendukung Israel, saya hanya ingin bertanya, apa yang Israel takutkan dari sekumpulan anak kecil yang memegang batu, sedangkan tentara Israel bergerak dengan persenjataan lengkap dan kendaraan perang baja?

Ketakutan Israel dengan strategi Intifadah para pejuang Palestina hanya memperlemah wibawa kalian Israel sebagai bangsa dengan anggaran militer terbesar di Timur Tengah. Sementara yang Israel lawan adalah mayoritas anak kecil, remaja, dan wanita. Dimana wibawa Israel ketika pasukan Izzudin Al Qassam mempertahankan dirinya dari serangan brutal Israel terhadap Palestina dan meluncurkan roket sampai ke Tel Aviv sementara tentara Israel lari bersembunyi dari roket rakitan?

Israel berpikir bahwa membunuh Komandan Militer HAMAS, Asy-Syahid Ahmad Al-Jabbari akan memperlemah barisan jihad Izzudin Al Qassam sebagai sayap militer HAMAS. Israel mengira bahwa tangisan seorang ibu yang kehilangan anaknya akan memperlemah mental mereka untuk terus berjuang membebaskan bumi Palestina. Dengan tegas penduduk Gaza menyatakan bahwa mereka siap bertempur sampai titik darah penghabisan, karena pilihan mereka hanyalah hidup mulia atau mati sebagai syuhada.

Lalu dimana sikap para pemikir yang menyandarkan ilmunya pada Barat, yang memperjuangkan teori Hak Asasi Manusia sebagai dasar dalam bersikap terhadap sesama? Dimana pemimpin mereka yang mendukung akan adanya kebebasan bersuara sementara tangisan para ibu di Gaza kalian sumpal dengan bom dan martir?

Ketahuilah, bahwasanya lambat laun kebenaran akan muncul ke permukaan. Karena sejatinya nilai dari kebenaran adalah absolut, dan kelemahan berpikir antar manusia yang membuat kebenaran tampak relatif.

Akuilah, apa yang sebenarnya Israel takutkan bukan batu-batu yang dilemparkan oleh anak-anak kecil di Gaza, juga bukan karena roket rakitan para pejuang HAMAS. Yang mereka takutkan adalah bala tentara yang diturunkan Allah SWT untuk membantu para pejuang Palestina dalam mencapai syahidnya. Secara tidak langsung, Israel mengakui adanya kekuatan Yang Maha Dahsyat dalam menjaga Palestina, dan itu bukan manusia, tetapi Allah SWT yang menjadi Tuhan ummat Islam.

Download Film Fetih 1453

  • 17

Link untuk download film Fetih 1453 bisa dari alamat berikut:
http://is.gd/NF8a7i atau http://is.gd/vri3Cn atau http://is.gd/e1opTh
size : 600 MB
subtitle indo : http://ryekoplock.heck.in/files/conquest1453.zip


“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.”


Film “Fetih 1453“ buatan Turki yang disutradari Faruk Aksoy ini diluncurkan serentak di berbagai belahan dunia pada tanggal 16 Februari 2012. Momen diriwayatkannya hadits tersebut dijadikan pembuka alur cerita, sekaligus mengisyaratkan bahwa keseluruhan visualisasi yang disajikan adalah bentuk adaptasi dari kisah nyata yang terjadi ratusan tahun silam. Saat itu, tentara kesultanan Usmani di bawah komando langsung dari sang Sultan Muhammad II mampu menaklukkan kota dengan pertahanan terbaik di dunia, yakni Konstantinopel.



Kontroversi tentang film Fetih 1453 muncul dari belahan Eropa sana, yaitu Yunani. Masyarakat Yunani terkesan tidak terima ketika film Fetih ingin menunjukan sebuah kebenaran sejarah yang memfaktakan bahwa tidak selamanya Islam selalu dalam posisi kalah dan Yunani selalu dalam posisi menang dan kstaria.

Sebagian besar dari mereka bahkan menghendaki Fetih 1453 dilarang beredar di Yunani. Meskipun demikian ada juga orang-orang Yunani dan dari belahan dunia lainnya yang mampu melihat lebih objektif terhadap film ini.




Sarjana Ramadhan

  • 0


Ramadhan telah meninggalkan kita, tanpa kita sadari apa hikmah yang bisa ambil dari Ramadhan tahun ini. Berbagai target telah direncanakan ketika awal Ramadhan, pelaksanaannya yang menjadi bukti. Tiga puluh hari itu menjadi bukti bagaimana keadaan iman kita sebenarnya. Waktu yang cukup lama untuk memperjuangkan konsistensi ibadah menyediakan waktu bagi kita untuk terus mengevaluasi kinerja dan konsep ibadah. Berbagai usaha kita lakukan untuk menggapai derajat pemenang di bulan mulia ini.

Dan semuapun akan berakhir, begitu pula Ramadhan. Disini puncak ujian kita sebagai seorang hamba, mampukah kita menghadirkan ibadah terbaik selama sebulan penuh kepada Allah? Padahal semua ibadah adalah untuk kita sendiri kecuali satu, ibadah puasa. Kepasrahan kita dalam menyerahkan hadiah ini kepada Allah sangat mempengaruhi amalan sehari-hari. Banyak orang yang berpuasa tapi dirinya tidak mendapat apa-apa selain lapar dan haus. Sungguh amat disesalkan ketika ibadah spesial ini kita lewati dengan kesia-siaan.

Pelajaran berharga ini akan memberikan kita pengalaman yang berharga bagi diri sendiri di waktu yang akan datang. Kekuatan iman akan kembali diuji tatkala konsistensi amal ibadah kita digoyahkan dengan tiada keutamaan di waktu kita melaksanakannya. Sebenarnya pada masa itulah kita mendapat kemuliaan yang lebih sebagai seorang hamba sekaligus seorang ahli ibadah. Karena pada saat Ramadhan, dengan begitu mulianya bulan ini ditambah begitu semangatnya umat muslim lain dalam menjalankan ibadah, maka ketinggian nilai ibadah akan terasa wajar. Berbeda jika kita melakukan hal itu di hari-hari biasa.

Puncak ibadah terjadi ketika bulan Ramadhan, di hari biasa kebanyakan orang mengurangi kuantitas ibadahnya dan lebih fokus dalam urusan dunia. Atas sebab itu, maka tidak ada perbedaan secara realistis antara bulan Ramadhan dengan bulan-bulan lainnya. Ramadhan hanya bonus yang diberikan Allah untuk merangsang hamba-Nya dalam melakukan amalan ibadah. Ramadhan juga berfungsi untuk meningkatkan kualitas keimanan sehingga setelah Ramadhan keimanan kita bisa lebih baik dari sebelum-sebelumnya.

Setelah sebulan penuh kita memberikan hadiah ibadah kepada Allah, kini giliran Allah yang membalas. Allah berikan sebuah hari yang sangat istimewa, yang Allah jadikan hari itu sebagai perayaan atas kemenangan umat Islam dalam mengalahkan hawa nafsunya. Hari yang menandakan kelulusan atas perjuangan kita. Dengan kata lain, Allah telah mewisuda kita di hari itu. Sebuah wisuda atas keberhasilan kita dalam kesempurnaan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Maka patut bagi kita untuk menyandang sebuah gelar yang sangat istimewa, Sarjana Ramadhan. Layaknya seorang sarjana, maka hal terberat yang akan dihadapi adalah pasca kelulusan. Fakta di lapangan akan membuktikan apakah kita mampu menerapkan hasil sarjana, atau kemudian kita hanya menjadi pengangguran yang tak tentu arah.

Semua ini sangat tergantung pada keimanan yang telah membuat kita berkarya menjadi Sarjana Ramadhan. Seorang sarjana akan sangat berguna apabila hasil karyanya mampu menyumbangkan hal yang positif bagi sekitar. Maka apa yang kita lakukan seharusnya bisa berdampak positif dan semakin meningkat dalam hubungan kepada Allah dan juga sesama manusia.

Yang Mana Awal #ramadhan-mu?

  • 3

Oleh @muja94





  1. #Ramadhan , apa itu ? apa hanya sekedar bulan suci ?

  2. banyak keutamaan di bulan #ramadhan ini, apa saja? banyaak....

  3. siroh nabawiyah menyebutkan bahwa sebagian besar peperangan terjadi di bulan #ramadhan dan berakhir dengan kemenangan di pihak Muslim

  4. 17 Agustus 1945, kalau tidak salah dengar juga itu masuk dalam bulan #ramadhan

  5. lantas apa artinya? itu berarti #ramadhan menyimpan sebuah pesan besar

  6. kemerdekaan sering kita anggap sebagai simbol penyatuan bangsa Indonesia, itu artinya saat itu umat bersatu pada bulan #ramadhan

  7. seperti yg kita tahu, perjuangan kemerdekaan d dominasi oleh para santri yg tergerak untuk membebaskan bangsa ini dari penjajahan. #ramadhan

  8. kemenangan umat Islam dalam peperangan di masa nabi juga tidak lepas dari kekuatan utama umat Islam, apa itu? persatuan. #ramadhan

  9. jadi aneh kalau dalam #ramadhan ini masih banyak permasalahan yang melibatkan persatuan umat Islam

  10. padahal kode2 tentang #ramadhan sering mengisyaratkan kita pada persatuan umat Islam

  11. perbedaan mengawali #ramadhan seharusnya bukan menjadi masalah, jika memang cara yang mereka pakai tetap syar'i

  12. awal #ramadhan bisa berbeda karena perbedaan metode yang digunakan, yang memakai hilal harus menunggu tanggal 29 sya'ban

  13. sedangkan yang memakai hisab sudah bisa memastikan awal #ramadhan dari jauh2 hari... hanya itu saja, apa yg perlu dipermasalahkan?

  14. kalau ada yg bertanya kapan saya memulai #ramadhan , saya ikut yang tidak menimbulkan banyak perpecahan

  15. bagaimanapun kita ini bangsa yang bernegara, ada sistem pemerintahan didalamnya, kementrian agama ditunjuk untuk mengurus awal #ramadhan

  16. kementrian agama memang bukan tuhan, bukan pula nabi, tapi dalam tatakrama bernegara, kita tunduk pada pemerintah selama itu baik. #ramadhan

  17. masih ada yg mempermasalahkan keabsahan kementrian agama? mereka juga menggunakan cara syar'i, banyak ulama disana. #ramadhan

  18. masalah fiqh, bagaimana kita mematuhi ulil amri, & bagaimana kita menjaga persatuan umat Islam ini tetap ada, jadi ga usah neko2. #ramadhan

  19. Jadi... Yang mana awal #ramadhan mu?

Suksesnya Lady Gaga dan Irshad Manji di Tangan Da’i

  • 3

Lady Gaga Illuminati

Aktivitas-aktivitas kontroversial ini sangat laku dalam pemberitaan media massa, beberapa waktu terakhir publik sempat dibingungkan dengan pro-kontra Irshad Manji dan Lady Gaga. Meskipun mereka memang benar-benar tidak bisa tampil di hadapan publik Indonesia, tapi mereka telah meninggalkan jejak yang sangat mendalam terhadap sejarah moral bangsa kita.

Berbagai ormas Islam dengan bermacam-macam dalil mencoba unjuk gigi, entah apa yang mereka katakan itu salah atau benar. Yang semakin membingungkan, justru perdebatan ini hanya terjadi di kalangan umat Muslim sendiri yang seharusnya bisa mengeluarkan satu suara terhadap kondisi yang terjadi. Masing-masing berargumen, saling menjatuhkan, sampai akhirnya sentimentalitas antar golongan yang sudah lama terkubur menjadi terkuak kembali.

Sungguh tidak etis ketika publik melihat umat Islam pada saat ini tidak mempunyai suara yang satu. Pluralisme yang diusung seakan hanya menjadi slogan dalam berinteraksi dengan orang-orang yang berbeda keyakinan. Dalam tubuh umat Islam sendiri pluralisme seakan tidak ada. Hanya ada pemaksaan kehendak dari masing-masing kepentingan. Jadi Islam seperti apa yang dapat dikatakan benar?

Lady Gaga dan Irshad Manji telah meninggalkan Indonesia. Bagi sebagian orang ini dianggap sebagai sebuah keberhasilan. Akan tetapi sebagian orang lain juga bisa mengklaim ini sebagai keberhasilan mereka. Siapakah “mereka”?

Maraknya pemberitaan terhadap kasus ini pasti sudah bisa diprediksikan. Justru hal ini yang dimanfaatkan untuk membawa nama kesuksesan mereka. Tentunya kita masih sadar, bahwa sebelum ini ada kejadian yang menjadi titik tolak kontroversial ini menjamur. Kerisihan para penolak Islam liberal memang sudah sampai pada puncaknya. Sampai akhirnya muncul sebuah gerakan yang sangat jelas menentang kelompok Islam liberal ini.

Gerakan ini semakin panas ketika kelompok liberal ini mengundang tokoh luar negeri yang disebut sebagai pembaharu Islam untuk mengisi beberapa kajian di Indonesia. Tokoh yang ternyata sembari meluncurkan buku terbarunya yang bahkan buku sebelumnya kurang populer di telinga orang Indonesia dalam sekejap bisa meraih popularitas maksimal atas hasil karya tersebut.

Sungguh menakjubkan, sebuah buku yang baru diluncurkan dalam sekejap bisa dikenal seantero nusantara, komplit dengan buku yang sebelumnya diterbitkan. Bukankah ini keberhasilan marketing luar biasa dari proyek penjualan buku?

Setelah sukses membuat publik tercengang, media kembali dihebohkan dengan pemberitaan bertubi-tubi dari penyanyi internasional yang ingin melaksanakan konser di Indonesia. Penyanyi ini memang kontroversial, bahkan di beberapa negara sempat dilarang untuk mengadakan konser dari penyanyi ini. Dan tibalah saatnya Indonesia. Protes serupa juga terjadi untuk menghalangi penyanyi ini tampil di Indonesia.

Aktivis dakwah tampil sebagai barisan terdepan dalam rangka menolak apa yang mereka sebut dengan kemungkaran. Namun, ada beberapa hal yang jarang dipahami dan disadari oleh para aktivis dakwah. Semua isu kecil bisa menjadi besar hanya dengan satu penyebab, dan semua isu besar bisa menjadi kecil hanya dengan satu penyebab yang sama. Dan jawabannya adalah media.

Ketika pembicaraan sudah semakin terlarut, media meraih keuntungan dari besarnya intensitas serta rating berita yang diterbitkan. Beberapa pihak pun merasa di untungkan. Siapa lagi pihak itu jika bukan orang-orang yang menginginkan pamor dari dua orang kontroversial itu meningkat. Mungkin ini terdengar sepele, bahkan terkesan mengada-ada. Tapi jika kita lihat fakta, ternyata semakin banyak anak-anak yang menjadi akrab dengan nama penyanyi itu. Padahal sebelumnya mereka hanya mengetahui samar-samar, bahkan sama sekali tidak mengetahui.

Sayangnya umat Islam saat ini belum sehebat mereka dalam mengalihkan isu, justru seringkali kita malah memakan barang dagangan mereka sendiri. Sudah jelas bahwa kedatangan dua tokoh itu hanya untuk mencari sensasi dan empati bagi kaum liberal. Dan kini publik semakin melihat bahwa sebenarnya mereka yang teraniaya. Dan kita harus menyadari, bahwa ini bukan hanya perang pemikiran semata. Apa yang terjadi ketika akhirnya simpati publik justru jatuh pada mereka?

Jika syi’ar media ini merupakan bagian dari dakwah kita, maka kita perlu merancang strategi baru dalam mengumandangkan syi’ar ini. Jangan sampai kita yang memakan barang dagangan mereka lagi. Jika kita mau membuka mata.

Pembodohan Masyarakat dan Fenomena Lahirnya #IndonesiaTanpaJIL

  • 8

Masih hangat dalam benak kita terkait perisitiwa beberapa minggu lalu di Kalimantan Tengah yang menghiasi headline berita lokal di penjuru nusantara mengenai penolakan masyarakat setempat terhadap pelantikan FPI Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah. Ketika beberapa pimpinan besar FPI hendak mendarat dan dihadang oleh sekelompok orang yang mengaku “masyarakat setempat” dengan membawa beberapa peralatan tajam maupun tumpul yang di hadapkan ke langit. Sekilas mereka mengatakan bahwa mereka menolak segala macam kekerasan dan dengan sangat percaya diri mereka melakukan itu semua (juga) dengan kekerasan.

Tokoh feminis berpaham liberal, Mariana Amiruddin menyatakan bahwa kekerasan yang terjadi dalam “penyambutan” beberapa pimpinan FPI di bandara merupakan sebuah adat atau kearifan lokal masyarakat setempat. Amat mengherankan jika kita dengan jelas menolak sesuatu dengan cara melakukan sesuatu tersebut, bukankah sebuah tindakan yang irasional? Setelah ditelusuri ternyata terungkap bahwa pencegatan FPI di bandara Tjilik Riwut Palangkaraya  dilakukan oleh preman-preman suruhan yang mengatasnamakan masyarakat Dayak.

Tepat ketika suasana valentine, beberapa aktivis JIL hendak merayakan Hari Valentine dengan mengadakan aksi di bunderan HI. Bahkan sempat di bentangkan spanduk yang bertuliskan “Kado Valentine untuk Habib”. Kontan hal ini memicu emosi sejumlah kalangan. Sejumlah pembesar JIL seperti Ulil Abshar dan Guntur Ramli terlihat dalam aksi tersebut.

Demi memuluskan perjalanannya, ulil dalam sebuah twitnya menyatakan “Dukung gerakan #IndonesiaTanpaFPI. Support the Indonesia-without-FPI movement. | FPI is an Indonesian "Islamic" vigilante group,”. Aksi inilah yang kemudian memunculkan contraflow dari masyarakat social media. Sebuah hashtag balasan berbunyi #IndonesiaTanpaJIL kian ramai diposting oleh penduduk twitter.

Ketika Mariana Amiruddin juga menyebutkan bahwa #IndonesiaTanpaFPI merupakan spontanitas respon yang ditimbukan oleh masyarakat social media, sudikah ia mengakui bahwa masyarakat social media lebih bisa memilih suatu kebenaran yang terjadi dan lebih memilih #IndonesiaTanpaJIL  ? Ketika mereka membuat suatu makar yang ingin melukai hati umat Islam, ternyata Allah telah mempersiapkan makar yang lebih jauh hebat dari mereka, Maha Benar firman Allah yang berbunyi


Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Q.S. Al-Anfal : 30)

Inilah masyarakat social media yang sebenarnya, orang-orang yang mempunyai kadar intelektual tinggi yang dapat membedakan fenomena benar dan salah. Inilah kami #IndonesiaTanpaJIL. Kamu?

*saat ini #IndonesiaTanpaJIL semakin ramai diperbincangkan di twitter bahkan muncul akun resmi @TanpaJIL dan fanpage facebook http://www.facebook.com/IndonesiaTanpaJIL
sebuah video pun dengan tegas menolak kehadiran JIL di Indonesia yang dibintangi oleh artis Fauzi Baadila http://www.facebook.com/photo.php?v=10151296369625123


video versi youtube: