Memulihkan Citra Islam

  • 12
“Media consumer” (c) Jimmy Dovholt

Jurnalistik merupakan seni dalam menyampaikan informasi kepada publik. Setiap orang membutuhkan informasi untuk meyempurnakan perjalanan hidupnya. Dalam aspek manajemen, informasi merupakan salah satu faktor utama yang akan digunakan dalam mengambil keputusan. Semua profesi, mulai dari buruh sampai presiden punya kepentingan tersendiri untuk mendapatkan informasi.



Saya pernah membayangkan masa lalu ketika teknologi belum ditemukan, dan bagaimana penyebaran informasi dilakukan. Burung Merpati sebagai pembawa pesan ternyata cukup populer untuk memberikan kabar dari ujung ke ujung. Saya juga membayangkan ketika prajurit kerajaan menyampaikan pesan kepada rajanya dengan langsung menghadap tuannya. Sepertinya imajinasi saya banyak ditafsirkan dari film-film yang saya lihat, tapi saya punya keyakinan jika dunia pernah mengalami masa itu, masa ketika informasi harus didapatkan dengan susah payah.

Tidak bisa dipungkiri, kita sedang berada di era keterbukaan informasi. Dengan segala kemudahan yang terjadi akibat perkembangan teknologi, informasi tersebar dengan cepat bahkan dalam hitungan detik. Sebuah wacana dan opini yang sedang dikembangkan bisa tersebar dalam sekejap bukan hanya di satu negara, tapi juga bisa sampai ke ujung dunia.

Tidak ada lagi cerita tentang Burung Merpati yang menyampaikan surat dan prajurit kerajaan berlari dengan kudanya demi menghadap tuannya untuk menyampaikan informasi hangat yang sangat penting. Dan inilah dunia kita berada, ketika informasi sudah semakin mudah didapat. Ironi, dengan semakin mudahnya informasi didapat, justru sebagian manusia hanya menjadi penikmat informasi. Dengan enteng menelan mentah-mentah sebuah informasi yang didapat dan kemudian dijadikan pijakan. Induk informasi justru dikuasai oleh sebagian kecil orang yang mempunyai akses tak terbatas dalam menyampaikan pesan. Alhasil, jutaan wacana dan opini menghantui pikiran dan menjadi doktrin tersendiri terhadap suatu isu tanpa ada resistensi kritis dari dalam diri.

Kemajuan ini juga menuntut para konsumen informasi untuk berkembang. Selama ini hanya pelaku informasi yang mempunyai kesadaran penuh atas perkembangan ini. Dengan beralihnya penyebaran informasi ke dunia digital, ternyata semua sistem ikut berubah. Penyebaran informasi bisa berlangsung dua arah, tidak lagi monoton seperti sebelumnya. Semua bisa menjadi pelaku penyebar informasi dan konsumen, bahkan kedua hal itu bisa berjalan bersamaan.

Semua dari kita menjadi pelaku dalam penyebaran informasi. Semua dari kita yang bermain pada teknologi informasi, lebih tepatnya social media mempunyai peran tersebut. Nampaknya hal ini masih kurang disadari dan banyak dari kita yang masih bertindak sebagai konsumen informasi. Sampai saat ini, masih lebih banyak yang menggunakan social media sebagai sarana eksistensi pribadi, berbagi sesuatu yang sejatinya bukan milik publik. Seni dalam social media adalah menjadikan eksistensi diri untuk menyampaikan informasi. Dengan jangkauan yang sangat luas, social media bisa bertindak lebih jauh. Amat disayangkan jika social media tidak digunakan secara optimal, bahkan cenderung menjadi bumerang.

Yang mengerikan, kondisi ini justru semakin merugikan umat Islam. Umumnya, orang Islam pada masa kini masih disibukkan pada pencarian jati diri keagamaan mereka. Sampai saat ini masih sering disibukkan dengan permasalahan internal, melupakan mereka yang sudah berkembang sedemikian pesat.

Peristiwa WTC merupakan sebuah contoh dimana opini publik terhadap Islam sangat cepat terbentuk tanpa ada resistensi yang optimal. Sudah menjadi rahasia umum jika media besar mempunyai keberpihakan tersendiri, dan umat Islam terpojok karena tidak ada media besar yang menjadi penyeimbang informasi. Setidaknya sebuah informasi yang objektif semakin sulit didapatkan. Dengan penguasaan media yang minim, serta pemahaman yang kurang, kondisi ini semakin tidak mendukung umat Islam untuk kembali merebut kejayaannya.

Maka salah satu cara paling mudah yang bisa dilakukan umat Islam adalah dengan melakukan publikasi opini yang masif. Dengan memanfaatkan arus informasi dua arah pada social media, dengan keaktifan umat Islam dalam memberikan informasi yang adil, maka citra Islam bisa dipulihkan. Karena pada dasarnya Islam adalah agama yang bersih, segala noda yang terjadi masih bisa dihilangkan. Selama upaya itu masih ada, maka harapan itu akan selalu ada.


Tulisan ini masuk menjadi Juara I dalam Jogjakarta Islamic Journalistic Fair