Jilbab Bukan Identitas tapi Standar Kesopanan

  • 0
Muslimah berjilbab. (C) yip87 deviantart
Suka bingung sama orang yang suka nyalahin jilbab, "lagi-lagi si jilbab", ketika ada yang melakukan kesalahan dan dia berjilbab, seolah itu dosa besar.

"Mestinya yang berjilbab itu perilakunya bagus biar gak malu-maluin Islam", saya gak bakal bahas pengguna jilbab itu bukan orang yang sempurna ataupun pejilbab yang melakukan kesalahan adalah oknum, karena itu sudah banyak dibahas.



Jilbab bukanlah simbol identitas, tapi kebutuhan seorang wanita Muslim atas standar kesopanan yang dia anut.

Sebagai manusia modern, kita hidup mengacu standar. Perkembangan zaman telah mengubah segalanya, termasuk standar kesopanan. Beberapa tahun lalu, orang berjalan-jalan di publik dengan bertelanjang dada bukan suatu masalah, tapi kini, bayangkan saja ada orang jalan-jalan di mall tanpa baju.

Standar kesopanan di zaman Nabi Muhammad pun berkembang, sebelumnya tidak ada perintah hijab, tapi kemudian menjadi sesuatu yang wajib.

Ingat, Adam dan Hawa pun turun ke bumi tanpa sehelai benang.

Standar kesopanan ini bisa berbeda-beda dipengaruhi geografis, kultur budaya, agama dan pendidikan. Apa yang terjadi jika standar kesopanan tidak dipenuhi?

Time change, people change. Dulu orang menghadap kepala suku hanya dengan memakai koteka bukan masalah. Sekarang, untuk bertemu bos atau dosen, siapa berani memakai koteka?

Jilbab jauh sekali dari sekedar simbol, karena menjadi orang Islam tidak semudah melilitkan kain diatas kepala. Untuk menjadi seorang Muslim harus mempercayai rukun iman dan menjalankan rukun Islam.

Karena kita tidak bisa menyalahkan orang yang memakai baju modern atas pakaiannya jika mereka masih berperilaku primitif, maka kita juga tidak bisa menyalahkan pejilbab atas jilbabnya jika mereka berperilaku primitif.