Filosofi Kerja Kelompok

  • 0
Suatu hari di sudut kampus negeri terkemuka di Yogyakarta.

Amir: “udah pada kumpul semua kan? Sekarang tinggal ngerjain, lumayan juga nih tugas Ekonomika Pengantar”

Amar: “tadi aku udah sempet baca, itu kayaknya nyambung sama materi sebelumnya deh”

Arum: “yaudah, langsung kita bagi tugas aja”

Amar: “kamu mau ngambil yang mana aja, Rum?”

Arum: “aku yang poin C sama D deh, tadi udah sempet nyari juga yang itu”

Amin: “aku yang E aja ya, panjang banget pertanyaannya, kayaknya bakal susah”

Amir: “wah, ini ada 8 poin, tanggung, mending dibagi rata aja kan masing-masing dapet 2”

Arum: “iya, kamu sama yang A aja nih, cuma definisi doang kok”

Amin: “oke, manut”

Amir: “berati aku yang B sama F ya, sisanya Amar,nanti dikirim ke emailku aja kalo udah selesai, 4m1r94n7en6@gmail.com, maksimal besok malem biar aku bisa kumpulin dulu dari kalian semua baru diprint”

Arum: “sip, aku pergi dulu ya, takut telat nanti dateng seminarnya”

Amar: “eh, kamu ga ikut rapat panitia ospek?”

Arum: “ngga dulu, ijinin deh ya”

Amin: “aku juga mau pergi dulu ya, Assalamu’alaikum”

Amir dan Amar: “Wa’alaikumsalam”

***

Sementara itu di sudut lain.

Tini: “Ton, kamu ngerti gak maksud yang C ini? Ngitung penerimaan pajak pemerintahnya gimana kalo kaya gini?”

Tino: “barusan ketemu model kayak tadi, itu ada dihalaman 38, coba liat deh”

Tono: “tumben pinter kamu Tino, abis makan apa?(sambil nyengir)”

Tania: “jangan gitu, gini-gini dia kemarin hasil UTS Akuntansi Pengantar dapet A lho”

Tino: (tersipu malu)

Tono: “sekarang bikin kurvanya, bisa gak kamu Tino?”

Tino: “justru itu, daritadi pas dosennya nerangin aku gak mudeng, pengen ikut ngerti juga”

Tini: “kayaknya gini deh, sumbu yang ini ditarik kesini, nah angka-angkanya pake yang udah kita itung tadi”

Tino: “hmm..... ya ya ya..... sekarang aku ngerti”

Tono: “udah selesai nih, sebutin NIM-nya dong satu-satu”

Setelah masing-masing mereka menyebutkan NIM-nya...

Tono: “Tan, nanti kamu yang ngeprint ya, kan dirumah kamu ada printer”

Tania: “oke”

***

Kisah diatas memang fiksi, tapi dua kejadian itu sangat umum terjadi di kalangan mahasiswa.  Selama di kampus, saya juga sudah mengalami dua kondisi tersebut, kontras sekali perbedaannya, dengan segala kelebihan dan kekurangan dari masing-masing metode

Metode pertama, biasanya terjadi ketika ada tugas kelompok dan para anggotanya sibuk (lebih tepatnya menyibukkan diri) dan lebih senang dengan pembagian tugas, setidaknya kewajiban mengerjakan tugas gugur. Tidak peduli para mahasiswa itu mengerti atau tidak, bahkan yang sering terjadi, antar pekerjaan mahasiswa terlihat tidak berhubungan.

Kelebihan dari metode ini, tidak perlu membuang waktu lama, masing-masing orang hanya butuh fokus pada satu atau beberapa pembahasan. Tentu saja, para mahasiswa kurang bisa memahami materi secara penuh, apalagi jika mereka tidak membaca lagi pembahasan materi yang lain. Dan memang lebih sering begitu, asumsinya mereka memang tidak punya keluangan khusus untuk menyelesaikan fokus akademik. Oke, sekali lagi, ini hanya menggugurkan kewajiban. Tapi, selama saya mengalami metode ini, free-rider tidak tumbuh subur, karena masing-masing anggota punya kewajiban khusus.

Metode kedua, saya bingung mengelompokkan mereka menjadi orang yang rajin atau cinta pada kuliahnya. Memang, metode ini membutuhkan waktu lama, kadang memakan waktu seharian. Akan tetapi, semua anggota kelompok bisa memahami materi, minimal memahami konsep dasar. Bagi sebagian orang, metode ini sangat membuang waktu. Bisa jadi, dari beberapa orang anggota, hanya sebagian yang vokal, selebihnya free-rider. Atau mungkin, yang datang mengerjakan hanya sebagian orang, dan selebihnya free-rider. Dan free-rider pada kasus ini bisa lebih buruk dari metode pertama, karena mereka bisa jadi tidak memahami apa-apa.

Semakin lama saya di kampus ini, justru metode pertama yang semakin banyak diterapkan. Lebih simple. Terkait kelebihan dan kekurangan, kita bisa mencari solusi. Contohnya, jika menggunakan metode pertama maka anggota juga harus membaca materi yang bukan bagiannya.

Sekarang, saya mencoba menarik fenomena ini kedalam fenomena berorganisasi di kampus. Bagi saya, praktek berorganisasi tidak jauh dari dua metode diatas. Ada tipe pemimpin yang lebih suka mendikotomi tugas organisasi dan menyerahkan ke masing-masing anggota. Ada juga pemimpin yang lebih memilih melakukan segala sesuatunya bersama. Senang susah ditanggung bersama. Tentu saja, seperti kelebihan dan kekurangan yang sudah saya berikan pada fenomena kerja kelompok, hal yang sama juga terjadi di organisasi.

Yang mesti dipahami, tidak ada metode yang sempurna. Tapi ini bisa masuk dalam konteks karakteristik seseorang. Dalam berpasangan, dua orang yang berbeda metode bisa saling mengisi kekurangan untuk mencapai kesempurnaan. Sampai disini, saya masih tetap pada pendirian “tidak ada sesuatu yang sempurna”, hanya menuju sempurna. Karena pada dasarnya, ada orang yang mendominasi, ada karakter yang mendominasi sehingga ketika dua karakter yang berbeda menyatu, mereka tidak melebur.

Lebih mudah menuntut daripada memberikan solusi. Dan kita sering lupa dengan teori ini. Seolah semua harus sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tanpa terkecuali. Jalan satu-satunya untuk keluar dari masalah ini, kenali diri sendiri, kenali orang lain. Tanpa itu, kekurangan setiap metode tidak akan bisa diberikan solusi.