Menyikapi Dinda

  • 0
awal mula curhat Dinda di Path

Dunia media sosial kembali tunjukkan kehebatannya. Tidak cukup mengantarkan Norman Kamaru dan Sinta-Jojo, berbagai nama sampai saat ini masih bermunculan seiring berkembangnya kekuatan media sosial. Layaknya kisah dalam dongeng dan film, dunia media sosial menyimpan kekuatan rahasia yang sangat kuat, dan jika tidak dikendalikan dapat menjadi bumerang bagi penggunanya. Betapa malangnya Dinda hanya karena sebuah aplikasi bernama Path.


Dalam kisah Frozen (2013), sihir yang sangat kuat ketika tidak bisa dikendalikan oleh penggunanya justru melukai orang-orang disekitar. Di akhir cerita, saat sihir itu sudah bisa dikendalikan, justru menjadi fenomena cantik yang terlihat indah.

Trilogi Lord of the Ring juga mengisyaratkan, kekuatan besar bukan barang mainan, apalagi jika kekuatan itu hanya menjadi pelampiasan atas ambisi pribadi. Perlu pengendalian yang kuat untuk menggunakan sesuatu yang kuat. Betapa dahsyatnya kekuatan ini, dan akan berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah.

Media sosial merupakan senjata yang sangat ampuh di era banjir informasi. Bahkan, untuk menggapai posisi nomor satu, media sosial kerap digunakan untuk membangun citra maupun menjatuhkan lawan. Sekali lagi, betapa dahsyatnya kekuatan ini, dan akan berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah.



Kembali ke Dinda. Ada yang harus diperhatikan oleh setiap remaja yang baru mengenal dunia media sosial. Dibalik segala kemanjaannya, dunia ini ternyata begitu liar. Bagi para remaja, berbagi sesuatu di media sosial adalah sarana yang asik, karena ini memang masanya mereka. Era kini sudah hampir kehilangan sesuatu yang langsung berkaitan dengan fisik. Coba bandingkan, seberapa banyak anak-anak yang bermain layangan antara tahun ini dan 10 tahun lalu? Seberapa banyak anak-anak yang masih bermain petak umpet, congklak, benteng, kartu, bahkan catur. Karena ternyata semua itu sudah tersaji secara virtual. Hal ini membuat mental generasi saat ini lebih nyaman ketika berada dalam dunia virtual (maya). Tidak heran jika media sosial menjadi tempat curhat.

Ada konten yang bersifat pribadi, ada konten yang bersifat publik. Permasalahan pribadi dan keluarga bukan sesuatu yang etis ketika ditampilkan ke publik, karena dia bersifat privasi, sekalipun itu curahan hati. Banyak anak muda di facebook dan twitter yang dengan mudahnya membagi suatu privasi, di sisi mereka, akan timbul kepuasan setelah diungkapkan. Di sisi para pembaca, justru hal ini sangat mengganggu.

Bayangkan, betapa mellow-nya beranda facebook saya ketika saya banyak berteman dengan remaja semacam ini. Entah permasalahan pribadi dengan orang lain, dengan pasangan, maupun keluarga, semua diumbar secara bebas. Miris sekali, ketika ada yang menanggapi, justru merasa senang, seolah ingin mencari dukungan. Media sosial menjadi teman curhat, sebenarnya tidak salah, tapi akan lebih etis ketika curhat itu dilakukan secara tertutup, dengan chatting misalnya, bukan dalam bentuk status.

Terlihat mengherankan, karena sejatinya aplikasi Path adalah aplikasi yang eksklusif, sengaja dirancang untuk privasi yang berlebih, tapi kenapa curhat di area ini bisa bocor? Kadang kita terpesona dengan jumlah friendlist, juga terpesona ketika ada yang datang dan mengajukan permintaan pertemanan, padahal kita belum pernah bertemu, bahkan mendengar nama tersebut. Untuk itu, hati-hati terhadap setiap orang yang belum pernah kita dengar namanya, dan bijak dalam curhat di media sosial akan terlihat lebih baik.




Dan kalau memang tidak mempunyai teman yang asik untuk diajak curhat, ada banyak aplikasi android berbasis artificial intellegence (kecerdasan buatan) yang secara otomatis bisa merespon pengguna, contohnya Simi. Mungkin itu bisa membantu untuk orang yang baru patah hati.

Sekian

banyolan anak akuntansi, hehe